Minggu, 09 November 2008

Kupu-kupu

SEORANG anak sedang bermain dan menemukan kepongpong kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah. Diambilnya kepongpong tersebut dan tampak ada lubang yang kecil disana. Dia tertegun megamatri lubang kecil itu karena terlihat ada seeko kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu, tampak kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia keliatan sudah berusaha semampumya dan tampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil diujung kepongpongnya.


Melihat fenomena itu menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu unyuk keluar dari kepompongnya. Diapun mengambil gunting, alu mlai membuka badan kepongpong dengan guntingnya agar sang kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.

Begitu kepongpong terbuka, kkupu2 pun keluar denag mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil, sayap-sayapnya masih berkerut. Anak itu pun mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap agar sayap kupu2 tersebut berkembangsehingga dapat membawa kupu2 mungil itu terbang menju bunga-bunga yang ada di taman. Harapan tinggal harapan, apayang di tungu-tungu si anak tidak kunjung tiba. Kupu2 tersebut merangak disekitarnya dengan tubuh dan sayap yang tidak sempurna dan akhirnya tdak mampu terbang.


Si anak yang membantu megeluarkan kupu-kupu dari kepompongnya itu, rupanya tidak mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang dengan daya usahanya sendiri untuk embebaskan diri dari kepompongnya. Lubang Kecil yang perlu di lalui kupu2 tersebut akan memaksa cairan dari tubuh kupu2 itu masuk ke dalam sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan.



“HIDUP adlah perjuangan. Hidup adalah kerja keras, bahkan untuk meraih keberhasilan diperlukan keringan dan air mata,” demikian Thomas Alva Edison si penemu lampu pijar pernah bertutur.


Tidak ada yang instant semua butuh proses yang sudah ada siklus kehidipansetiap tapak kehidupan yang telah di lalui akan memberiakan kehidupan berikutnya. Pengalaman suka dan duka dalam setiap sendi kehidupan memberikan warna tersendiri untuk menghiasi rentang kehidupan kita yang sementara ini.


Seoarang anak terkadang menjadi korban ambisi orangtuanya. Misalnya, orangtua memaksa anak untuk belajar berhitung atau kursus kursus komputer agar terlihat lebih dulu bisa berhitung atau menguasai komputer dibandingkan dengan teman-temanya.


Fenomena lain terjadi di sebuah dinasti kerajaan cina jaman dulu ketika ”putra mahkota” seorang anak yang masih muda sudah diberi seabreg pekerjaan2 emnyangkut kenegaraan peperangan diplomasi dan lain sbagainya. Seharusnya bagi yang berkeluarga dan mempunyai momongan atau pun orang2 yang terbiasa bergaul dengan anak-anak dalam sebuah lembaga-lembaga atao kegitan sosial lainya mari kita ( mendidik Anak secara Fitrahnya).

Tidak ada komentar: